Mudik Jalur Cinta
Sebelumnya saya ucapkan Selamat hari Raya Idulfitri 1435 H. ”Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Ja’alanallahu minal aidin wal faizin”
Berbagi cerita ya, di saat pulang mudik lebaran.. yakinlah semua punya cerita :)
Mudik itu? ada yang bisa jawab?
Hal pertama yang muncul dalam pikiran kita adalah pulang kampung pakai motor, bermacet-macetan , panasnya berasa sekali, istirahat pun sedapetnya, makan juga seadanya yang jualan saat kita kecapean. betul? Ya begitulah mudik dengan motor, harus berpanas-panas ria dalam kemacetan dan sebagainya.
Namun bagi saya berbeda, saya mudik dengan motor bersama istri (Qurnia RC) dan anak saya (SM Langit Al-Fatih) yang baru 10 bulan. Tantangan yang saya dapat adalah agar mereka selalu nyaman dan tidak kelelahan, bayangin deh sulitnya... Menghindari kemacetan sampai menghindari lubang, menjaga stabilnya motor sampai menjaga kecepatan berkendara untuk membuat mereka nyaman mboncengnya. Selain itu juga memastikan anak dan istri tidak kelelahan di jalan dengan istirahat di tempat yang sejuk serta cukup.
Saya pun menempuh jalur mudik melewati jalur cinta "Cikarang - Purwakarta - Sumedang - Kadipaten - Majalengka". Jangan tanya kenapa saya menamai jalur itu dengan Jalur Cinta, itu keluar begitu saja ketika saya melewatinya dulu saat saya ingin mempersunting wanita yang kini sudah jadi istri heheuw.. Jalan dengan tikungan yang eksotis melewati bukit, tebing dan pegunungan serta sejuknya perbukitan hingga pegunungan :)
Panas, Capek, Lelah terbayar karena bisa bertemu dengan sanak saudara di kampung halaman istri tercinta dan juga hari raya ke-2 kita menuju kampung halaman saya Kebumen tercinta untuk silaturahmi dengan keluarga sampai liburan bersama keluarga. Mudik itu sederhana tapi mengandung arti sangat mendalam. Alhamdulillah,, saya beserta anak dan istri sehat dan selamat selama mudik dan mudik balik.
Bagaimana mudikmu?

